Thursday, 14 October 2010

Melatih Ibu-ibu Membudidayakan Ulat Superworm

Superworm atau disebut juga 'ulat Jerman' punya potensi ekonomi yang cukup tinggi (foto:David Abdulgani)
Apa jadinya jika seseorang tiba-tiba menunjukkan ulat-ulat yang masih bergeliat di tengah-tengah kerumuman ibu-ibu. Tentu saja, forum langsung buyar dan beberapa di antaranya mendekat karena penasaran. Pemandangan itu kemarin terjadi di halaman Balai RW XI Kelurahan Madyopuro.

Kejadian itu berawal ketika seseorang mengambil setangkup ulat di dalam botol besar dan diletakkan dalam gelas berisi air. Tak cukup hanya itu, dengan cekatan dia memasukkan ulat-ulat yang sudah mati ke penggorengan. Begitu matang, ulat langsung disajikan di atas piring dan disuguhkan. “Ayo, siapa yang mau mencoba…ini enak lho,” ujarnya.

Ada yang langsung mendekat, ada juga yang langsung menjauh karena jijik. Bahkan, ada seorang ibu PKK dengan sengaja membawa ulat-ulat matang itu kekerumuman ibu-ibu yang lain. Kontan saja, mereka berteriak dan lari. Tapi, setelah memberanikan diri mencicipi ulat goreng, mereka baru komentar. “Ternyata enak. Kulitnya seperti jagung bakar. Dagingnya mirip daging laron, baunya juga gurih,” ujar Ny Anwar Sanusi. Begitu tahu rasanya, beberapa ibu PKK yang semula enggan akhirnya ikut mencoba pula. “Benar, ternyata gurih,” lanjut Ny Umi.

Kondisi tersebut merupakan bagian salah satu bagian pelatihan kewirausahaan budidaya ulat super worm di halaman Balai RW XI, Kelurahan Madyopuro. Selain melihat langsung proses pengolahan paling sederhana, yakni digoreng, sekitar 24 ibu di wilayah RW XI mengikuti pelatihan hingga tuntas. Termasuk mendapatkan materi tentang kewirausahaan dari Ketua Tim Penggerak PKK Pemkot Malang Heri Pudji Utami.

Lurah Madyopuro Agus Riwahyudi mengatakan, pelatihan ini sebuah langkah memberdayakan kaum ibu di RW XI. Dengan begitu, bisa meningkatkan taraf hidup warga meski bukan penghasilan utama warga. “Minimal para ibu bisa berdaya dengan membantu perekonomian keluarga,” ujar Agus.

Bahkan, kawasan RW XI ini akan dijadikan pilot project budidaya super worm. Sehingga ke depan kawasan ini menjadi sentra produksi super worm dan olahannya. Apalagi, di Kota Malang belum ada budidaya super worm yang melibatkan masyarakat luas. “Mungkin nanti akan dibuat sentra pengembangbiakan di sekitar balai RW,” kata dia.

Suratman, ketua RW XI sekaligus pembina budidaya super worm menjelaskan, ulat jenis ini termasuk dalam spesies serangga. “Di Amerika Utara, ulat ini dikemas dalam botol seperti selai dan dimakan dengan roti. Tapi ada juga yang dimakan mentah,” terangnya.

Sayangnya, kata Suratman, di Indonesia masih sangat jarang dikembangkan. Bahkan, di Jatim hanya ada satu di kawasan Kedungkandang. Padahal, pasar super worm sangat potensial. Hanya saja untuk membudidayakan ulat jenis ini butuh kesabaran. “Super worm tergolong ulat yang manja. Jika kepanasan atau kedinginan bisa mati,” ujar dia.

Suhu yang cocok untuk ulat ini sekitar 26-30 derajat. Sedangkan makanan super worm tidak begitu sulit. Karena ulat ini suka apel atau sayur. “Jika lancar, usia lima bulan bisa dipanen. Satu kilogramnya Rp 15 ribu dengan biaya produksi hanya Rp 5 ribu per kilogram. Karena itu, warga di sini tertarik,” bebernya. Pelatihan ini dilakukan sendiri diprakarsai Buntara, Malang. Sebuah perusahaan budidaya ulat super worm di kawasan Kedungkandang, Kota Malang.
(nen/ziz/radarmalang)

Reaksi:

3 komentar:

  1. masih ada g bos ulat jermannya

    ReplyDelete
  2. belum dicoba sih,cm ada keinginan aja,kalo berminat bisnis lobster aja...!

    ReplyDelete
  3. wih, beneran tuh makan ulat... ane blum coba, geli liatnya juga..

    ReplyDelete